SEO BLOG & TEMPLATES
Cah Tulungagung Seng Mampir
Blog Archive
Diberdayakan oleh Blogger.
Blog Archives
Labels Cloud
Labels List Numbered
Popular Posts
-
Welcome To Paradise Indonesia adalah sebuah negara dengan keanekaragaman budaya yang sangat melimpah, terbukti setiap...
-
“tak pernah kami bermimpi menafkahi anak dan keluarga kami dari tempat yang menurutmu kotor ini, namun bisakah kami memilih” ...
-
“Jika ada yang mengatakan bahwa Tulungagung bebas korupsi, itu adalah nonsense (omong kosong)’’ Jaringan mafia korupsi sangat sul...
-
Sore itu suasana kampus sudah mulai lengang, kegiatan perkuliahan sudah banyak yang berakhir. Namun tampak 6 orang mahasiswa ditemani 2 ora...
-
“ Surga seakan-akan pernah bocor, mencipratkan kekayaan dan keindahannya. Dan, cipratan keindahan itu bernama Indonesia Raya.” Emha A...
-
Tempat-tempat hiburan, cafe, karaoke, warkop, warung cethe dan warung remang-remang di Tulungagung, rawan bagi penyalahgunaan dan pere...
-
Jangan pernah mengaku pecinta kuliner murah kalau belum pernah mengunjungi warung “MAK TIK”. Sebuah nama yang terbilang sangat familiar ...
Pages
Video of the day
Labels
About Me
Tampilkan postingan dengan label berita terkini. Tampilkan semua postingan
berita terkini, tempat
“tak pernah kami bermimpi menafkahi anak dan keluarga kami dari tempat yang menurutmu kotor ini, namun bisakah kami memilih”Tak banyak orang yang tahu nama Kaliwungu, sebuah desa di pinggiran kecamatan Ngunut-Tulungagung. Meski begitu, belakangan nama kaliwungu kerap disebut diberbagai media massa. Bukan sebab terjadi bencana alam ataupun kerusuhan berbau SARA di tempat ini, melainkan satu dari dua lokalisasi legal di Tulungagung terdapat disini, serta bisa dikatakan sebagai lokalisasi yang terbesar di kabupaten yang di sebelah selatan berbatasan langsung dengan samudra Hindia ini. Keberadaan lokalisasi kaliwungu sendiri sebenarnya bukan hal baru, berdasarkan catatan Dinas Sosial Tulungagung lokalisasi ini telah ada sejak tahun 1972. Rencana pemerintah mengalihfungsikan (penutupan ; red) lokalisasi inilah salah satu pemicu maraknya pemberitaan terkait kawasan kaliwungu.
![]() |
| Eks-Lokalisasi Kaliwungu |
Tak butuh waktu lama untuk sampai ketempat ini, dengan menggunakan sepeda motor berkecepatan sedang misalnya, hanya diperlukan waktu sekitar 30 menit dari pusat pemerintahan kabupaten Tulungagung. Lokalisasi kaliwungu sendiri berada tak jauh dari pasar Ngunut, pasar yang bisa dibilang jantung perekonomian dan pusat keramaian warga Ngunut. jika berniat menuju Lokalisasi Kaliwungu, dari jalanan antar kabupaten yang padat berganti jalanan yang bisa dikatakan cukup lengang. Meski jalanan sudah beraspal namun karena termakan usia terdapat beberapa lubang disana-sini. Sekitar 100 meter menuju Lokalisasi Kaliwungu akan didapati jalanan kecil di tengah kepadatan rumah penduduk, yang sejauh ini hidup berdampingan bersama warga lokalisasi.
Tak akan didapati para pria berbadan kekar dan berpakaian serba hitam yang menjaga tempat ini, sebagaimana para Bodyguard yang menjaga club malam atau tempat hiburan malam lainya. Yang ada justru laki=-laki yang sebagian besar telah lanjut usia dengan seragam kebesaran berlabel “LINMAS”.
Keramaian Malam di Lokalisasi
Jangan pernah beranggapan bahwa lokalisasi adalah sebuah tempat yang sepi dengan lampu remang-remang serta hanya ada wanita yang menjajakan dirinya sembari mengumbar kemolekan tubuh. Setidaknya keadaan semacam itu tak terjadi di loisasi ini, keramaian kaliwungu di malam hari tak ubahnya seperti pasar malam. “Suasana di lokalisasi tak seperti yang selama ini ada dalam bayanganku, ternyata rame banget” ungkap MR (20th), seorang pemuda yang mengaku datang ke Kaliwungu hanya untuk mengobati rasa penasaranya tentang bagaimana kondisi di lokalisasi selama ini. Hal itu bisa juga dilihat dari banyaknya kendaraan yang terparkir di bagian depan area lokalisasi. “Tiap hari kalau pas lagi ramai kayak gini, ada sekitar 150 atau bahkan lebih kendaraan yang parkir lo mas”ungkap salah seorang tukang parkir yang enggan disebut namanya.
Alunan musik yang riuh terdengar bersahutan datang dari berbagai sudut wisma, dipadu suara beberapa pengunjung yang tengah ber-karaoke yang terkadang terdengar cukup false. Belum lagi suara para pedagang makanan yang tengah menjajakan barang dagangannya menambah keramaian malam di lokalisasi. Tak semua pengunjung yang datang hanya untuk mencari jasa para PSK, ada pula yang datang ke lokalisasi hanya berniat melepas penat sembari menikmati secangkir kopi panas khas lokalisasi. Terkadang Sebagian pengunjung sengaja datang ke kaliwungu bersama teman, sehingga tampak beberapa gerombolan orang bergantian masuk ke area lokalisasi.
Kepingan Rupiah di Lokalisasi
“wes to mas gak usah, malah nggak seneng aku nek carane ngene” (sudahlah mas tidak usah, saya justru tidak suka kalau caranya seperti ini;red) tutur Mbok Nem salah seorang pemilik wisma. Berdasarkan pengakuan Putra beserta teman-teman wartawan dari berbagai media massa di Tulungagung, Mbok Nem memang selalu menolak saat rekan-rekan wartawan atau para aktifis yang peduli nasib PSK (Pekerja seks komersial) akan membayar minuman yang telah dipesan di warung miliknya. Seperti halnya malam itu, berulang kali para wartawan memaksa Mbok Nem untuk mau menerima uang atas apa yang telah mereka pesan, namun berulang kali pula Mbok Nem menolak uang yang sebenarnya memang menjadi haknya. Perdebatan kecil kerap terjadi antara para wartawan dengan Mbok Nem mengenai hal tersebut, akan tetapi perdebatan tersebut selalu berujung kemenangan dipihak Mbok Nem. “Kalau Mbok Nem sudah ngotot kayak gitu, akhirnya kami juga yang harus mengalah” tambah Putra, seorang wartawan TV swasta.
Mbok Nem hanya satu dari puluhan pemilik wisma di area lokalisasi kaliwungu-ngunut . Wanita yang kini usianya lebih dari setengah abad itu tak hanya menjadikan rumahnya sebagai tempat hunian dimana orang seusianya biasa bermanja-manja dengan cucu maupun kerabatnya, melainkan menjadikan rumahnya sebagai tempat mencari penghidupan juga. Rumah kecilnya disulap menjadi 2 bagian, warung kopi di satu sisi dan kamar-kamar tempat beberapa wanita menawarkan jasanya di sisi yang lain. Sebagaimana Mbok Nem, beberapa pemilik wisma terkadang tak hanya menawarkan jasa PSK semata, ada yang mendesign wismanya sebagai tempat karaoke, salon, tempat minum, dan tentu yang paling banyak wisma plus warung kopi.
Jika pernah terbersit dalam benak sebuah anggapan bahwa lokalisasi adalah lahan mencari penghidupan bagi PSK dan pemillik wisma ( Mucikari; Red) saja, segera buang anggapan tersebut jauh-jauh, ada begitu banyak orang yang menjadikan kaliwungu sebagai sumber penghidupan untuk keluarganya. Mulai dari tukang parkir, tenaga keamanan (LINMAS), Tukang cuci (Loundry), pejual makanan, tukang tambal ban, salon, dan berbagai macam usaha lainya. Meski tak dipungkiri jasa PSK masih menjadi komoditi utama.
Di berbagai sudut lokalisasi sangat mudah ditemui gerobak-gerobak para penjual makanan, dan makanan yang dijual pun beraneka ragam. “Disini itu dijual berbagai jenis makanan mas, itu dipengaruhi gaya hidup para PSK bermacam-macam, ada yang glamor namun ada pula yang hidup dan makan sekedarnya saja. Makanya para penjual pun menuruti kemauan konsumen” papar Dwi salah seorang warga sekitar yang peduli akan nasib PSK. Harga makanan yang ditawarkan pun tak jauh beda dengan harga makanan yang sama diluar area lokalisasi. Ada pula pedagang makanan keliling antar wisma, untuk tipe penjual yang seperti ini di dominasi oleh orang lanjut usia. Mereka menawarkan makanan seperti rujak, pecel, serta makanan ringan dari satu wisma ke wisma yang lain, berharap ada PSK ataupun pelangganya yang tertarik dengan daganganya.
Tak semua pedagang menawarkan makanan. AS (49th) misalnya, di salah satu sudut komplek dengan berbekalkan lampu beserta aki mengajak para pengunjung untuk menguji keberuntungan mereka. Ada ratusan kertas potongan kecil-kecil yang dibungkus dan disusun secara berurutan. Disetiap kertas ada nomor-nomor yang nantinya akan dicocokan dengan hadiah yang telah ia sediakan. “ mau jual makanan udah banyak mas, lagian begini saja rame kok, iso digae nyekolahne anak ”, ungkapnya bangga.
RENCANA PENGALIHAN FUNGSI LOKALISASI
Bermula dari rencana pemerintah beserta 30 deklarator yang terdiri dari berbagai Ormas di Tulungagung yang merancang sebuah program bertajuk pengentasan PSK lewat serangkaian upaya pemberdayaan. Sebuah program yang akan mengalihfungsikan kawasan lokalisasi kaliwungu dan Ngujang menjadi zona ekonomi produktif. Dalam program tersebut dijabarkan pula skema pelatihan untuk para PSK agar mampu hidup mandiri dan memiliki pekerjaan baru yang lebih bermartabat. Sementara lahan lokalisasi akan dialih fungsikan menjadi tempat futsal, pemancingan, dan pasar burung.
Para deklarator berdalih hal ini sebagai tidak lanjut kebijakan dari tingkat propinsi. Namun sekretaris Komisi B DPRD Tulungagung, Heru Santoso S.Pd, M.Pd dalam keteranganya pada Bhirawa, Kamis(8/3) segera membantah alasan tersebut, karena menurutnya dari tingkat Propinsi masih sebatas imbauan, “Baru imbauan saja, pernyataan ini kami dapat setelah bertemu dengan kabiro kesra pemprov jatim. Selasa(6/3) lalu” ungkapnya. Pada dasarnya pihak pemerintah Provinsi yang dalam hal ini diwakil kabiro Kesra Jatim menilai keputusan Pemkab Tulungagung terlalu cepat, meski akhirnya beliau juga mendukung keputusan ini.
Para PSK dan Mucikari yang menjadi pembahasan dalam masalah ini pun dengan tegas menolak program yang ditawarkan pemerintah, pasalnya program dari pemerintah dianggap tidak jelas dan terkesan memaksakan diri, “Dasar hukumnya belum jelas, begitupun dengan Program yang ditawarkan. Program semacam ini pernah diberlakukan di beberapa lokalisasi, namun program itu berlaku bertahap dan sampai sekarang belum berakhir”, ungkap seorang mucikari lokalisasi kaliwungu dalam sebuah wawancara dengan crew Dimensi.
Dalam menyikapi rencana pemerintah tersebut para penghuni lokalisasi beserta orang-orang yang peduli terhadap nasib mereka membentuk sebuah komunitas bernama BENDERA (Bela nasib akan derita rakyat; Red). “Komunitas ini bertujuan untuk men-solid-kan para penghuni lokalisasi, bentuk kebersamaan dan kerukunan warga lokalisasi kaliwungu” Ungkap Dion ketua RW setempat yang terpilih menjadi ketua BENDERA. Selain itu menurutnya komunitas ini terbentuk agar momen pengalihfungsian Lokalisasi tidak ditunggangi oleh kepentingan segelintir orang. Sebagaiman diketahui bersama banyak orang yang mencoba peruntungan dengan mempengaruhi penghuni lokalisasi agar mau menyetujui program pengalihfungsian lokalisasi demi sejumlah kepentingan
Warga kaliwungu dan pun punya cara sendiri dalam menyikapi polemik rerkait pengalihfungsian lokalisasi. Pengelola sepakat untuk tidak menerima anak asuh baru (PSK;Red), dan memilih untuk tetap menjalankan aktifitas lokalisasi dengan anak asuh yang ada. Tentunya dengan sebuah keyakinan bahwa para PSK pun tak ada yang pernah bermimpi untuk menekuni pekerjaan mereka saat ini, pastilah mereka berharap mendapatkan pekerjaan lain yang lebih layak dan tentunya tanpa batas penutupan
Memang tak ada satu agamapun yang membenarkan segala bentuk Praktek prostitusi. Meski begitu, Pemerintah diharapkan lebih bijak dengan tidak memandang bahwa yang bergantung secara ekonomi terhadap Lokalisasi bukan hanya PSK dan Mucikari, melainkan juga masyarakat sekitar. Program ini tentulah diambil pemerintah dan didukung oleh para deklarator dari berbagai ormas dengan maksud menjadikan Tulungagung lebih makmur, sejahtera dan yang paling penting guyub rukun. Jika pemerintah masih berpegang teguh pada komitmen awal mereka, tentulah dengan pertimbangan-pertimbangan yang ada pemerintah sepantastasnya memikirkan cara lain yang lebih Humanis diterima dan melegakan semua kalangan.
berita terkini, opini
“ Surga seakan-akan
pernah bocor, mencipratkan kekayaan dan keindahannya. Dan, cipratan keindahan
itu bernama Indonesia Raya.”
Emha Ainun Najib
Emha Ainun Najib
Sepenggal
kalimat yang dilontarkan Cak Nun di atas memang bermajas hiperbola, tapi ada kebenaran
yang tak bisa ditampik dari dua baris kalimat yang dilontarkan budayawan asal
Jombang-Jawa Timur tersebut. Kenyataan bahwa Indonesia adalah sebuah negri yang
dianugrahi keindahan alam yang luar biasa tak perlu diperdebatkan. Tak perlu
kiranya aku ceritakan lagi tentang eksotika pantai dan kehidupan bawah laut
negeri ini, atau betapa melimpahnya aneka barang tambang yang terkandung di
perut buminya. Hutan hujan tropis di negeri ini kabarnya juga merupakan yang
terbaik di dunia, berikut dengan flora dan fauna yang beberapa diantaranya
merupakan spesies endemik. Juga tentang keberagaman budaya dan suku bangsanya,
aku yakin cerita macam ini sudah sangat sering kalian dengar, atau mungkin
beberapa diantara kalian justru sudah pernah melihatnya secara langsung.
![]() |
| doc.google |
Gambaran Kabupaten
Tulungagung
Tulungagung adalah sebongkah kecil
dari negeri (yang katanya) penggalan surga ini. Kabupaten Tulungagung memang
bukan pulau Bali yang keindahanya telah mendunia. Tulungagung hanya kabupaten
kecil yang terletak di pinggiran Samudra Hindia, di bagian paling selatan provinsi
Jawa Timur. Namun kabupaten ini pantas berada di jajaran terdepan sebagai
kawasan dengan sumber daya alam yang melimpah. Berdiri dengan kokoh
gunung-gunung marmer, terhampar luas pantai-pantai dengan kandungan pasir besi,
tanah yang subur, sumber air yang melimpah, serta sungai-sungai yang mengalir
hampir di setiap desa. Tulungagung juga dikenal sebagai tempat ditemukanya
manusia purba Homo Wajakensis dan berbagai situs purbakala lainya, yang artinya kabupaten Tulungagung
memiliki seribu alasan untuk menjadi kabupaten yang mampu mensejahterakan
warganya.
Bukan Indonesia kiranya kalau semua
berjalan sebagaimana seharusnya, ungkapan “rumput
tetangga selalu nampak lebih hijau” nampaknya berlaku dalam situasi ini. Sungguh
tragis saat mengetahui masyarakat lokal Tulungagung justru lebih banyak mencari
rejeki di negeri orang. Berdasarkan data BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan
Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia), ada sekitar delapan ribu warga Tulungagung
yang mencari penghidupan dengan bekerja di luar negeri. Jumlah yang tidak
sedikit, bukan? Bahkan kabarnya TKI asal Tulungagung merupakan yang terbanyak
dibandingkan kabupaten lain di provinsi Jawa Timur. Data ini memang masih layak
diperdebatkan. Dinsosnakertran Kabupaten Tulungagung misalnya, berdasar pada
data yang dirilis secara resmi, mengklaim TKI asal Tulungagung hanya sejumlah
1.267. Namun jumlah ini merupakan jumlah TKI yang mendaftar secara resmi. TKI
yang mendaftar di daerah lain atau melalui jalur ilegal belum masuk dalam data
tersebut. Mungkinkah tahun-tahun berikutnya jumlah ini akan bertambah?
Jawabannya adalah ‘mungkin’, selama masyarakat
lokal belum menyadari dan enggan untuk mengelola sendiri potensi kekayaan
negara ini. Stereotype bahwa jadi pekerja di negeri orang itu “dompetnya
lebih tebal” daripada di negara sendiri sudah mulai menjangkit pola pikir
masyarakat. Ditambah dengan suksesnya media umum menghipnotis kita seolah-olah:
Indonesia semakin bobrok, lebih baik
pindah ke negeri orang. Gambaran ini setidaknya membuka pola pikir kalian
bahwa seharusnya masyarakat lokal tak perlu berkecil hati di negerinya sendiri.
Bahwasanya Indonesia merupakan negara yang besar dan kaya, hanya perlu
kepedulian dari pemerintah dan warga lokal. Kekayaan sumber daya alam negara
ini memang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab negara, dan warga lokal.
Bukan tanggung jawab warga asing dalam mengelolanya, sementara warga lokal
diiming-imingi uang melimpah di negeri orang. Dalam kasus ini, Tulungagung bisa
dijadikan interpretasi Indonesia, mewakili keadaan nasional. Bagaimana mungkin
negara yang sekaya ini, penduduknya miskin? Mungkin saja hal tersebut terjadi,
jika level percaya diri masyarakat diturunkan; entah oleh tingkah polah
pemerintah, maupun bias media. Warga lokal diajak berpikir menjadi inferior
atas negerinya sendiri.
Wabah TKI
Keputusan untuk mengabdikan diri
sebagai Pahlawan devisa tak selalu dilandasi oleh kurangnya ketersediaan
lapangan pekerjaan. Industri rumahan yang selama ini menopang perekonomian
Indonesia ada dalam jumlah yang sangat banyak disini. Setiap desa mencitrakan
dirinya dengan satu industry khusus yang berbeda dengan daerah lainya. Ranah
usahanya pun beragam, Mulai dari industry pengolahan batu marmer atau onyx, gerabah,
alat-alat kebersihan, industri pengolah kain perca, dan sektor perekonomian
lain.
Layaknya virus, TKI mewabah di
daerah-daerah dengan penduduk yang gampang
kepingin (konsumeris). Godaan dari tetangga yang pernah menjadi TKI, pulang
kampung, kemudian membangun rumah mewah di desanya, atau memiliki gadget
tercanggih di daerah tersebut, terkadang mampu mengusik ketenangan mencari
penghidupan di tanah sendiri. Cerita demi cerita tentang mudahnya mengais
rejeki di negara tetangga – daripada menjadi petani atau pengrajin – merupakan
dorongan kuat untuk menjadi TKI. Keputusan menjadi TKI dewasa ini mayoritas
termotivasi oleh sukses TKI-TKI sebelumnya. Bukan lagi dilatarbelakangi oleh
kurang tersedianya lapangan pekerjaan di daerah asal.
Menjadi miris saat mengetahui banyak
yang menjual sawah untuk menjadi TKI, kemudian lupa bahwa jengkal tanah yang
dijual adalah untuk kesinambungan hidup anak cucu Indonesia. Banyak yang lupa
bahwa menjadi nelayan, petani, guru, peternak, pengrajin, lebih dibutuhkan
daripada pembangunan ruko secara sporadis dan membiarkan warganya hidup
konsumtif. Namun sekali lagi, ini bukan mutlak salah masyarakat. Kebijakan
pemerintah juga turut mempengaruhi. Tidak ada pembatasan pengiriman jumlah TKI,
kurangnya perhatian pada sektor perekonomian rakyat, serta tidak adanya batasan
barang impor dan jumlah pekerja asing di Indonesia tentunya mendorong warga
lokal untuk go international menjadi
TKI, hingga banyak yang melalui jalur ilegal.
Pergeseran Pola
Pikir dan Gaya Hidup
Pergeseran
motivasi untuk menjadi TKI tentunya juga dipengaruhi oleh pola pikir dan gaya
hidup. Sedangkan pola pikir dan gaya hidup individu tidak lepas dari pola pikir
dan gaya hidup lingkungannya. Contoh sederhana dapat dilihat lagi dari kondisi
Tulungagung. Hidup dari hasil memanfaatkan tanah Tulungagung yang subur atau
menjadi bagian dari industri kreatif memang bisa menghidupi kebutuhan sehari
hari. Tetapi melihat gaya hidup para TKI yang pulang kampung dengan gadget
canggih dan rumah mewah lebih menggoda.
Di jaman media visual ini, media umum
memegang peranan penting dalam konstruk sosial. Hal-hal yang ditayangkan dalam
media cetak maupun elektronik membangun pribadi Indonesia sebagai pribadi
konsumtif dan manja. Bahwa pekerjaan yang layak untuk ditekuni hanya PNS atau
kaum berdasi di gedung ber-AC. Pola pikir ini secara otomatis turut mengubah
gaya hidup seseorang, yang awalnya sederhana saja menjadi ingin memiliki
semuanya. Seseorang yang awalnya suka bekerja keras kemudian diajak untuk
menjadi pribadi yang instan, ingin semuanya segera selesai tanpa harus keluar
keringat. Warga lokal yang awalnya bangga pada kekayaan alam daerahnya, menjadi
minder dan memuja tanah orang. Hal seperti ini tak seharusnya terjadi jika
masyarakat paham status, kondisi sosial, serta peran penting warga dalam
membangun sebuah negara.
Bagaimana
Seharusnya?
Jika berbicara tentang seharusnya,
warga Indonesia seharusnya ditumbuhkan rasa bangganya terhadap negara sendiri.
Tidak selayaknya media umum menayangkan tontonan-tontonan yang membuat warga
menjadi kerdil, tidak bangga terhadap negara, ataupun buta kekayaan alam di
negara sendiri hingga yang melihat potensi alam kita adalah warga asing.
Seyogyanya pers mahasiswa menyadari
peran penting sebagai media alternatif, yakni menyuarakan keindahan, kekayaan,
dan potensi alam Indonesia untuk kemudian dikelola dengan bijak untuk hajat
hidup rakyat. Tidak hanya menyuguhkan beragam permasalahan di negri ini tanpa
ada upaya mengawal. Salam persma…!!!
Top 5 Popular of The Week
-
Welcome To Paradise Indonesia adalah sebuah negara dengan keanekaragaman budaya yang sangat melimpah, terbukti setiap...
-
“tak pernah kami bermimpi menafkahi anak dan keluarga kami dari tempat yang menurutmu kotor ini, namun bisakah kami memilih” ...
-
“Jika ada yang mengatakan bahwa Tulungagung bebas korupsi, itu adalah nonsense (omong kosong)’’ Jaringan mafia korupsi sangat sul...
-
Sore itu suasana kampus sudah mulai lengang, kegiatan perkuliahan sudah banyak yang berakhir. Namun tampak 6 orang mahasiswa ditemani 2 ora...
-
“ Surga seakan-akan pernah bocor, mencipratkan kekayaan dan keindahannya. Dan, cipratan keindahan itu bernama Indonesia Raya.” Emha A...
-
Tempat-tempat hiburan, cafe, karaoke, warkop, warung cethe dan warung remang-remang di Tulungagung, rawan bagi penyalahgunaan dan pere...
-
Jangan pernah mengaku pecinta kuliner murah kalau belum pernah mengunjungi warung “MAK TIK”. Sebuah nama yang terbilang sangat familiar ...


